kumpulan artikel dan makalah   Leave a comment

BAB II

PERSPEKTIF PENGEMBANGAN KURIKULUM

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

 

  1. A.                PAI DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasional (Sisdiknas), memuat aturan tentang pendidikan yang cukup komperehensip. Salah satu penjabarannya tertuang dalam PP RI No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 menyebutkan bahwa, Pendidikan Agama adalah ”Pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan”.

Selanjutnya, dalam Bab II Pendidikan Agama Pasal 2 berkaitan dengan fungsi dan tujuan Pendidikan Agama dijelaskan bahwa, Pendidikan Agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Dalam pasal 5 PP RI No. 55 Tahun 2007, pada ayat 5 sampai 7 berturut-turut di sebutkan lebih rinci mengenai tujuan kognitif, afektif dan psikomotorik pendidikan agama serta pendekatan yang perlu dikembangkan yaitu; Pendidikan agama membangun sikap mental peserta didik untuk berperilaku jujur, amanah, disiplin, bekerja keras, mandiri, kompetitif, kooperatif, dan bertanggung jawab. Pendidikan agama menumbuhkan sikap kritis, inovatif, dan dinamis, sehingga menjadi pendorong peserta didik untuk memiliki kompetensi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga. Pendidikan agama diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,menantang, mendorong kreativitas dan kemandirian, serta menumbuhkan motivasi untuk hidup sukses.

Sangat nampak terlihat dalam kandungan PP Nomor 55 tahun 2007 terkait semangat untuk menyelenggarakan pendidikan agama yang lebih bermakna. Terutama yang mengedepankan pendekatan yang berbasis siswa (student centered learning process) dengan mendorong mereka semaksimal mungkin melakukan kajian agama yang lebih dinamis tanpa mengurangi substansi ajarannya serta tujuan-tujuan substansial dari pendidikan agama. Ini menjadi tantangan berat bagi para pendidik agama Islam terutama mereka yang terlanjur nyaman mempergunakan pendekatan normatif-doktriner yang tidak mengakar kepada problem keagamaan yang dihadapi peserta didik secara nyata di kehidupan sosialnya.

Pembelajaran agama Islam yang menekankan pemahaman relasional tidak cukup dengan penguasaan guru terhadap substansi ajaran agama yang bersifat normatif. Tetapi, hal ini memerlukan kepekaan guru terhadap realitas dunia pelajar dalam aspek sosial budaya, perkembangan IPTEK, psikologis dan perkembangan moral. Hal ini memerlukan pengembangan model instruksional yang dapat memenuhi unsur-unsur dinamis dalam kurikulum dan materi pembelajaran, pendekatan penyajian, metode dan strategi, penggunaan media dan sistem evaluasi.

 

  1. B.                 HAKIKAT PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PAI merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan. PAI yang hakikatnya merupakan sebuah proses itu,  dalam perkembangannya juga dimaksudkan sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun di perguruan tinggi.

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lain. Adapun karakteristik mata pelajaran PAI adalah sebagai berikut:

  1. Secara umum, PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran dasar Islam yang terakumulasi dalam al-Quran dan al-Hadis, untuk kepentingan pendidikan melalui proses ijtihad para ulama.
  2. Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu akidah, syariah, dan akhlak.
  3. Mata pelajaran PAI tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk menguasai ajaran Islam, tetapi yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat mengamalkan ajaran-ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Tujuan diberikannya  mata pelajaran PAI adalah untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam dan berakhlakul karimah.
  5. Tujuan akhir dari pelajaran PAI di SMA adalah terbentuknya peserta didik yang berakhlak mulia yang merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, pendidikan akhlak adalah jiwa dari PAI. Mencapai akhlak karimah adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.

 

  1. C.                ASPEK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Di SMA, mata pelajaran PAI diorganisasi secara terpadu (integrated), yang terdiri dari aspek Quran, Hadis, Aqidah, Fiqh dan SKI yang diajarkan oleh seorang guru PAI. Sedangkan di Madrasah Aliyah, mata pelajaran PAI di bagi menjadi sub-sub materi pelajaran yaitu Aqidah Akhlak, Quran Hadis, Fiqh dan SKI yang diajarkan secara terpisah oleh masing-masing guru mata pelajaran yang sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.

Struktur mata pelajaran PAI di SMA dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adapaun komponen-komponen PAI di Madrasah adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Aqidah Akhlak

Pendidikan Aqidah dan Akhlaq adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku Akhlak mulia. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan ini juga diarahkan pada peneguhan aqidah dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa. Kompetensi mata pelajaran Aqidah dan Akhlaq di MA adalah sebagai berikut:

  1. Memahami dan meyakini hakikat Aqidah Islam dan Akhlaq Islam.
  2. Memahami dan meyakini hakikat iman kepada malaikat serta mampu berakhlak terpuji (kreatif, dinamis, dan tawakkal) dan menghindari Akhlaq tercela (pasif, pesimis, kikir dll) dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Memahami dan meyakini kebenaran kita-kitab Allah.
  4. Mengenal dan meyakini Rasul dan beriman kepada hari akhir serta mampu menganalisis secara ilmiah dan berperilaku terpuji untuk memperkokoh kehidupan masyarakat (solidaritas, zuhud, tasamuh, ta’awun, saling menghargai, dan tidak ingkar janji) dalam kehidupan sehari-hari, dll.
  5. 2.    Qur’an Hadits

Mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits merupakan unsur mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada madrasah yang memberikan pendidikan kepada peserta didik untuk memahami dan mencintai Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber hukum ajaran Islam dan mengamalkan isi kandungannya. Kemampuan-kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ini meliputi:

  1. Mampu mendefinisikan Al-Qur’an, mengetahui kemukjizatan Al-Qur’an, mengenal kedudukan, fungsi dan tujuan Al-Qur’an, cara-cara dan hikmah diturunkannya Al-Qur’an dan mengetahui pokok-pokok isi Al-Qur’an.
  2. Mampu mengenali persamaan dan perbedaan hadits, sunnah, khabar dan atsar, mengetahui unsur-unsur hadits dan beberapa kitab kumpulan hadits.
  3. Mampu memahami kemurnian dan kesempurnaan Al-Qur’an, dan menerapkan prinsip Al-Qur’an sebagai sumber nilai, mengenali nikmat Allah dan mensyukurinya, dan lain-lain.
  4. 3.    Fiqih

Mata Pelajaran Fiqih dalam kurikulum Madrasah Aliyah adalah bagian dari mata pelajaran PAI yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal,  memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman, pembiasaan dan keteladanan.

Mata pelajaran Fiqih Madrasah Aliyah ini meliputi: Fiqih Ibadah, Muamalah, Munakahat, Jinayah, Siyasah, dan Ushul Fiqih. Hal ini  menggambarkan bahwa ruang lingkup Fiqih mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan keseimbangan (hablunminallah wa hablunminannas).

Kemampuan dasar umum yang harus dicapai dan diamalkan, yaitu:

  1. Memiliki pemahaman dan penghayatan terhadap ajaran Islam tentang thoharah, ibadah, penyelenggaraan jenazah dan konsep muamalah.
  2. Memiliki pemahaman dan penghayatan terhadap ajaran Islam tentang pidana, hudud, munakahah, waris dan wasiat.
  3. Memiliki pemahaman dan penghayatan terhadap ajaran Islam tentang khilafah, peradilan, sumber hukum Islam, pengembangan hukum Islam, dasar-dasar hukum Islam dan kaidah hukum Islam.
  4. 4.    Sejarah Kebudayaan Islam

Mata Pelajaran SKI dalam kurikulum Madrasah Aliyah adalah salah satu bagian dari mata pelajaran PAI yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal,  memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya. Mata pelajaran SKI Madrasah Aliyah ini meliputi: sejarah Islam di Andalusia, pemikiran dan gerakan modernisasi dunia Islam, perkembangan dan pembaharuan Islam di Indonesia. Kemampuan guru sangat dibutuhkan dalam menggali nilai, norma, ibrah/hikmah, dalil dan teori dari fakta sejarah yang ada. Jadi, SKI tidak saja merupakan transfer of knowledge, tetapi juga merupakan pendidikan nilai (value education).

  1. D.                TIPOLOGI FILSAFAT PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI

Dilihat dari tipologi dan kecenderungan filsafat pendidikan Islam dalam pengembangan kurikulum PAI,  Abdullah (2006: 129) menggolongkannya menjadi  empat tipologi yaitu:

  1. 1.             Tipologi Perenial-Esensialis Salafi

Tipologi perenial-­esensialis salafi lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam era salaf. Sehingga, pendidikan Islam berfungsi sebagai upaya melestarikan dan mempertahankan nilai-nilai (Ilahiyah dan insaniyah). Kebiasaan dan tradisi masyarakat salaf (era kenabian dan sahabat), karena mereka dipandang sebagai masyarakat yang ideal.

Dengan demikian, tujuan pendidikan agama Islam diorientasikan pada upaya: (1) membantu peserta didik dalam menguak, menemukan dan menginternalisasikan kebenaran­-kebenaran masa lalu pada masa salaf al-shalih; dan (2) men­jelaskan dan menyebarkan warisan sejarah dan budaya salaf melalui sejumlah inti pengetahuan yang terakumulasi yang telah berlaku sepanjang masa dan karena itu penting diketahui oleh semua orang.

Antara lain yang dimaksud dengan tajdid (pembaruan) agama, sebagai “I’adatu Ii’l-din ila ma kana `alaihi ‘ahdu al-salaF al-shalih”, yakni mengem­balikan ajaran agama kepada keadaannya semula, sebagaimana yang terjadi pada masa salaf al-shalih (zaman Nabi, sahabat dan tabi’in).

Metode pembelajarannya bisa dilakukan melalui ceramah, dialog, diskusi atau perdebatan dan pemberian tugas-tugas. Manajemen kelasnya lebih diarahkan pada pem­bentukan karakter, keteraturan, keseragaman terstruktur, tepat dan teratur dalam men­jalankan tugas-tugas. Evaluasinya menggunakan ujian-ujian essay, tes-tes diagnostik, tes prestasi belajar yang terstandarisasi, dan tes kompetensi berbasis amaliah. Sedangkan peranan guru PAI adalah sebagai figur yang memiliki otoritas tinggi, yang me­yakini kebijakan masa lalu, penyebar kebenaran, dan orang (sarjana) yang ahli di bidangnya.

  1. 2.        Tipologi Perenial-Esensialis Mazhabi

Dilihat dari karakteristiknya, tipologi Perenial-esensialis mazhabi lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam yang tradisional berpa doktrinan serta pola-pola pemikiran sebelumnya yang dianggap sudah relatif mapan. Pendidikan Islam lebih berfungsi sebagai upaya mempertahankan dan mewaris­kan nilai, tradisi dan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan konteks perkembangan zaman dan era kontemporer yang dihadapinya.

Dalam hal ini, tujuan pendidikan agama Islam diorientasikan pada upaya: (1) membantu peserta didik dalam menguak, menemukan dan menginterna­lisasikan kebenaran-kebenaran agama sebagai hasil interpretasi ulama pada masa pasca salaf al-shalih atau masa klasik dan pertengahan (menurut klasifikasi Harun Nasution, 1992); dan (2) menjelaskan dan menyebarkan warisan ajaran, nilai-nilai dan pemikiran para pendahulunya yang dianggap mapan secara turun temurun, karena penting diketahui oleh semua orang.

Metode Pembelajaran, Manajemen Kelas, Evaluasi dan Peranan Guru PAI sama seperti Tipologi Perenial Esensialis Salafi.

  1. 3.        Tipologi Modernis

Tipologi modernis lebih menonjolkan wawasan kependidikan Islam yang bebas, modifikatif, progresif dan dinamis dalam menghadapi dan merespons tuntutan dan kebutuhan dari ling­kungannya, sehingga pendidikan Islam berfungsi sebagai upaya melakukan rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pada masa sekarang.

Asumsi yang perlu dipegangi dalam pembelajaran PAI adalah bahwa: (1) Agama Islam adalah bahasanya seorang actor (pelaku), dalam arti bagaimana peserta didik mampu menjadi pelaku beragama (Islam) yang benar dan baik; (2) membina sikap loyalitas dan komitmen (kesetiaan, keterikatan emosional atau keberpihakan) terhadap kebenaran ajaran dan nilai-nilai agamanya; dan (3) membina semangat dedikasi. Hanya saja, tampilannya bukan bersikap eksklusif yang bersifat apologis yang berlebihan, sehingga sulit diwujudkan sikap toleran. Seba­liknya, justru berusaha membangun mentalitas beragama yang bersifat inklusif, memiliki semangat persatuan dan toleransi antarsesama di tengah-tengah masyarakat yang bersifat plural.

Metode-metode pembelajarannya dilakukan melalui coope­rative activities atau cooperative learning, metode project, dan/atau scientific method (metode ilmiah), yaitu dengan jalan mengiden­tifikasi masalah, merumuskan hipotesis, dan meneliti ke lapangan. Manajemen kelasnya lebih diarahkan pada pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi, keterlibatan aktif dalam pembelajaran, serta penciptaan proses belajar secara demokratis. Evaluasinya lebih banyak menggunakan evaluasi formatif, dengan asumsi bahwa setiap peserta didik mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu yang berbeda dan juga guru sebagai fasilitator memaksa adanya feedback antara dia dan murid.

  1. 4.        Tipologi Perenial-Esensialis Kontekstual-Falsifikatif

Perenial-esensialis konteks­tual falsifikatif mengambil jalan tengah antara kembali ke masa lalu dengan jalan melakukan kontekstualisasi serta uji falsifikasi dan mengembangkan wawasan-wawasan kependidikan Islam masa sekarang selaras dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial yang ada.

Dengan demikian, dalam agama Islam terdapat hal-hal yang bersifat doktrin, supra-rasional, nilai-nilai esensial dan universal atau root values, dan ada pula hal-hal yang berada dalam wilayah akal serta nilai-nilai yang bersifat instrumental dan lokal. Dalam hal yang pertama, digunakan model perenial esensialis salafi dan perenial esensialis mazhabi, sedangkan dalam hal yang kedua digunakan model modernis.

  1. 5.        Tipologi Rekonstruksi Sosial Berlandaskan Tauhid

Menurut tipologi rekonstruksi sosial, bahwa pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran peserta didik akan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia, yang merupakan bagian dari kewajiban dan tanggung jawab pemeluk agama Islam untuk memecahkannya melalui da’wah bi al-hal, baik yang terkait dengan masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya ataupun lainnya, dan mengajarkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memecah­kan semua problem tersebut agar dapat berpartisipasi dalam melakukan ishlah (perbaikan) dan amar ma’ruf nahi munkar, sehingga dapat terwujud suatu tatanan masyarakat baru yang lebih baik.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka peserta didik perlu dibekali kemampuan-kemampuan: (1) mendeteksi masalah-masalah atau isu-isu krusial yang berkembang di masyarakat untuk selanjutnya diangkat menjadi tema-tema proyek atau kaji tindak; (2) melek berpikir kritis (critical literacy); (3) bagai­mana strategi dan teknik berhubungan dengan masyarakat; (4) bekerja secara kelompok atau kooperatif dan kolaboratif; (5) menghargai atau toleran terhadap yang lain; (6) cara kerja untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan pengembangan masyarakat menuju tatanan yang lebih baik. Karena itu, seko­lah/perguruan tinggi digunakan sebagai sarana atau wahana untuk melakukan perubahan sosial, dan sebagian besar waktu kegiatan belajar pendidikan agama Islam lebih diarahkan ke luar kelas, setidak-tidaknya pada satu semester tertentu.

Kurikulumnya memusatkan perhatian pada masalah-ma­salah sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat dan meng­harapkan agar peserta didik dapat memecahkan masalah-masalah tersebut melalui pengetahuan dan konsep-konsep yang telah diketahui. Dengan dilandasi pandangan aliran interaksional, kurikulum rekonstruksi sosial mengharapkan peserta didik dapat berinteraksi, bekerja sama dengan guru PAI, peserta didik lainnya, maupun sumber-sumber belajar yang tersedia, untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.

Guru PAI berperan sebagai project director, yang mampu me­mimpin dan mengarahkan transformasi, serta menjadi agen perubahan, dan bersama dengan peserta didiknya berusaha membentuk masyarakat baru. Agar peranannya menjadi lebih efektif, maka Guru PAI seyogyanya menjadi aktivis sosial atau da’i yang senantiasa mengajak orang lain tanpa bosan dan lelah kepada kebajikan atau petunjuk-petunjuk Ilahi, menyuruh masyarakat kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang munkar.

Cara pembelajaran PAI dapat menggunakan metode-me­tode simulasi, bermain peranan (role-playing), internship atau menerjunkan peserta didik ke masyarakat yang menjadi sasaran proyek, serta belajar bekerja di masyarakat (work study). Mana­jemen kelasnya diupayakan untuk tidak terlalu terikat pada belajar di dalam kelas an sich, tetapi justru lebih banyak di luar kelas, tidak membedakan jenis kelamin dan ras, berusaha menciptakan suasana think-tank, serta membangun masyarakat (community building).

Interaksi guru dan peserta didik dalam pembelajaran PAI lebih bersifat dinamis, kritis, progresif, terbuka, bahkan ber­sikap proaktif dan antisipatif, tetapi juga mengembangkan nilai-nilai kooperatif dan kolaboratif, toleran, serta komitmen pada hak dan kewajiban asasi manusia. Pada tataran operasionalnya, dapat dikembangkan peace education sebagai model pendidikan. Peace education adalah model pendidikan yang mengupayakan pemberdayaan masyarakat agar mereka mampu mengatasi konflik atau masalahnya sendiri dengan cara kreatif dan tidak dengan cara kekerasan. Pelaksanaannya dapat berupa belajar kelompok (learning together), sehingga peserta didik terlatih memecahkan persoalan-persoalan bersama, dengan berbagai model transaksi sosial-psikologisnya. Melalui belajar kelompok, peserta didik akan terlatih untuk menekan egoismenya dan terlatih untuk menghargai hak-hak orang lain.

Evaluai pembelajaran PAI menekakan pada evaluasi formatif, dengan asumsi bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang lebih maju dan meningkat secara berkelanjutan, serta kemampuannya untuk membangun masyarakat yang lebih baik dengan memerankan ilmu dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, sehingga diperlukan upaya peningkatan kemampuan, minat, bakat dan prestasi belajarnya secara terus menerus melalui pemberian umpan balik. Di samping itu, karena pembelajaran PAI berwawasan rekonstruksi sosial lebih menekankan pada belajar kelompok yang dinamis, kooperatif dan kolaboratif, maka evaluasi dan penilaiannya juga dilakukan secara kooperatif.

  1. E.                PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI

Dalam pengembanganan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI), biasanya digunakan empat model pendekatan, yaitu:

  1. 1.        Pendekatan Subyek Akademis

Pendekatan subyek akademis dalam menyusun kurikulum PAI dilakukan dengan berdasarkan sistematisasi disiplin ilmu Agama Islam. Misalnya untuk aspek keimanan, atau mata pelajaran aqidah menggunakan sistematisasi ilmu tauhid, aspek/mata pelajaran A-Quran menggunakan sistematisasi ilmu Al-Quran atau ilmu Tafsir, dan seterusnya. Masing-masing aspek/mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik tersendiri, yang dapat digunakan untuk pengembangan disiplin ilmu lebih lanjut bagi peserta didik yang memiliki minat di bidangya.

Dengan pendekatan ini, guru dituntut untuk ahli dan menguasai secara benar-benar materi yang akan diajarkan kepada murid. Murid juga dituntut menguasai materi-materi tersebut sebanyak-banyaknya. Pendekatan interaktif dan ini lebih bersifat pengembangan intelektual.

  1. 2.        Pendekatan Humanistik

Pendekatan ini menekankan pengembangan kepribadian peserta didik secara utuh dan seimbang antara perkembangan segi intelektual, afektif, dengan psikomotor. Kurikulum Humanistik menekankan pengembangan potensi dan kemampuan dengan memperhatikan minat dan kebutuhan peserta didik. Dalam konteks ini adalah, bagaimana pengembangan kurikulum PAI diarahkan pada usaha “memanusiakan manusia” atau mengembangkan potensi dan fitrahnya individunya.

Manusia memiliki beragam potensi dan fitrah yang diberikan Allah SWT yang dapat dikembangkan yang dapat menuntun manusia ke arah manusia yang dikehendaki Allah SWT. Al-Maraghi (1966, I) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa manusia telah diberi Allah SWT secara bertingkat-tingkat. Hidayah-hidayah tersebut adalah : 1) Hidayatul Ilham (instink), dorongan yang bersifat animal, tidak berdasarkan pikiran yang panjang; 2) Hidayah al-hawas (indra), alat badani yang peka terhadap rangsangan dari luar, 3) hidayah al-aql (akal budi); 4) hidayah al-adyan (hidayah agama); 5) hidayah al-taufiq atau hidayah al-maunah.

Di samping itu manusia juga memiliki potensi-potensi dasar yang disebut fitrah, yakni sesuatu kekuatan atau kemampuan (potensi yang terpedam) yang menetap/menancap pada diri manusia sejak awal kejadiannya, untuk komitmen terhadap nilai-nilai keimanan kepada-Nya, cenderung kepada kebenaran (hanif), dan potensi itu merupakan ciptaan Allah.

Dengan berbagai macam potensi tersebut, Allah memberikan amanat atau tugas kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fil ardh). Segala amanah tersebut mesti dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT sebagai Pemberi mandat. Manusia akan sukses menjalankan amanh-Nya tersebut jika manusia mampu mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.

Dari berbagai uraian tersebut diatas, Muhaimin (2007) bahwa upaya “memanusiakan manusia” dalam perspektif pendidikan Islam berarti : (a) Usaha memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk tumbuh dan mengembangkan segala  potensinya seoptimal mungkin guna pemecahan masalah dalam kehidupan juga dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. (b) Menumbuhkembangkan sebagian sifat-sifat ketuhanan (potensi/fitrah) itu secara terpadu dan diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks individu maupun sosial. (c) Membimbing dan mengarahkan agar mampu mengemban  amanah dari Allah, baik sebagai hamba Allah maupun khalifah-Nya.

  1. 3.       Pendekatan Teknologis

Pengembangan kurikulum dengan pendekatan teknologis bertolak dari analisis kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu. Materi yang diajarkan, criteria evaluasi, strategi belajar mengajar yang digunakan ditetapkan sesuai dengan analisis kompetensi tersebut. Dalam pengembangan kurikulum PAI, pendekaan tersebut dapat digunakan untuk pembelajaran PAI yang menekankan pada know how atau cara menjalankan tugas-tugas tertentu. Misalnya cara melaksanakan shalat, haji, puasa, zakat, mengkafani dan shalat jenazah dll, (Muhaimin, 2007 : 164).

Pembelajaran PAI dikatakan menggunakan pendekatan teknologis, bilamana ia menggunakan pendekatan sistem dalam menganalisis maslah belajar, merencanakan, mengelola, melaksanakan dan menilainya. Program pembelajaran didesain sedemikian rupa mulai dari proses hingga penetapan hasil belajar yang dapat dievaluasi dan diukur dengan jelas dan terkontrol secara ketat, yakni  penguasaan kompetensi siswa. Kompetensi siswa yang bersifat umum dipecah atau diuraikan mejadi sub-sub kompetensi yang lebih rinci yang dapat diamati dan diukur.

Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut maka perlu dikembangkan suatu kurikulum yang mengakomodir Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) yang dapat berfungsi sebagai bahan maupun alat pembelajaran.

Dengan pendekatan teknologis atau kompetensi ini dapat dilihat pada aspek-aspek sebagai berikut :

  1. Tujuan. Tujuan pembelajaran PAI diarahkan pada penguasaan kemampuan akademik, kemampuan vokasional, atau kemampuan pribadi yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi yang dirinci menjadi perilaku-perilaku yang lebih kecil yang dapat diukur.
  2. Metode. Metode pembelajaran PAI lebih bersifat behavioristik, yakni perubahan perilaku yang dapat diukur yang menekankan hubungan antara stimulus dan respon (S-R). Juga menekankan pada ketuntasan belajar (mastery learning terhadap kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan.
  3. Organisasi bahan ajaran. Bahan ajaran atau isi kurikulum PAI banyak diambil dari disiplin ilmu, seperti aqidah, fiqih, tarikh dan lain-lain. Tetapi telah diramu sedemikian rupa, sehingga mendukung penguasaan sesuatu kompetensi. Urutan dari kompetensi dan sub-sub kompetensi  ini pada dasarnya menjadi inti dari organisasi bahan ajaran.
  4. Evaluasi. Evaluasi yang mereka gunakan umumnya berbentuk penilaian kompetensi. Sesuai dengan landasan pemikiran (paradigma) bahwa model pembelajarannya menekankan sifat ilmiah. Bentuk penilaian ini dipandang yang paling cocok, mesti dapat mengukur perilaku atau performansi dalam bidang PAI.
  5. 4.       Pendekatan Reknonstruksi Sosial

Dengan pendekatan ini, Kurikulum PAI dikembangkan bertolak dari problem-problem yang dihadapi oleh masyarakat dalam konteks ajaran Islam. Hal tersebut disusun dan dikembangkan sebagai inti dari kurikulum PAI yang dipelajari oleh siswa. Dalam posisi ini, kurikulum PAI mesti diorientasikan dan mampu menjadi problem solver terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Tujuan pembelajaran PAI tidak semata diarahkan pada kompetensi penguasaan materi secara intelektual atau pembentukan kesalehan secara pribadi, tetapi menekankan pada kesalehan sosial yakni menumbuhkan kepedulian siswa terhadap problematika umat. Tujuan kurikulum ini diorientasikan pada pembentukan ideal umat Islam.

Pengembangan kurikulum ini diawali dengan tahap-tahap sebagai berikut : Pertama, tahap analisis di lapangan yakni terhadap problem-problem (dalam konteks ajaran Islam) yang terjadi di tengah-tengah umat. Problem tersebut diidentifikasi, dikategorisasi, dikalsifikasi menjadi tema-tema pembelajaran.

Tahap kedua, penyesunan desain. Dari hasil analisis pada tahap pertama tersebut kemudian dibuat desain sebagai berikut: perumusan tujuan, merancang program pembelajaran yang mencakup tema pokok, pendekatan dan metode, media dan sumber belajar, unit waktu dan evaluasi.

Tahap ketiga, implementasi. Desain yang telah tersusun kemudian diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran model kurikulum ini tidak hanya dilaksanakan di dalam kelas, tapi juga menjadikan lingkungan masyarakat sebagai sumber dan sarana pembelajaran.

Tahap keempat, evaluasi dan umpan balik. Dari implemntasi desain tersebut kemudian dievaluasi untuk mengatahui sejauh mana efektifitas penerapan kurikulum ini, sekaligus sebagai umpan balik untuk memperbaiki kekuarangan-kekuarangan pada aspek-aspek tertentu dan menyempurnakan lagi untuk tahap pengembangan selanjutnya.

Secara skematis pengembanagn kurikulum ini dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Posted 5 Januari 2013 by hanifahanwar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: